Detail Artikel

Islamic Financial Engineering; Aplikasi Kontrak Murabahah
Ditulis oleh H. Faisal Saleh, Lc. pada tanggal 2010-11-25 14:09:01 Dibaca 3054 kali 1 komentar
ISLAMIC FINANCIAL ENGINEERING:
Aplikasi Murabahah Dalam Sistem Keuangan Syariah Kontemporer*
Oleh: H. Faisal Saleh, Lc, M.Si (Cakim PA Jakarta Barat)
*Makalah ini telah disampaikan dalam Seminar Ekonomi Syariah DIKLAT Cakim V, pada 18 Juni 2010 di Auditorium Pusdiklat Kumdil Mahkamah Agung. 

A.  PENDAHULUAN

Dalam ekonomi makro, institusi keuangan memiliki peran sebagai pengumpul dana dari masyarakat (surplus unit) dan menyalurkan dana ke segmen masyarakat yang lain (deficit unit), upaya mengumpulkan dan menyalurkan dana tersebut dilakukan dengan menawarkan berbagai variasi aktiva produk keuangan. Dengan demikian, ketrampilan dalam rekayasa bentuk keuangan inovatif memainkan peran besar dalam menekan overhead costs suatu lembaga keuangan, dan kemampuan menciptakan produk akan sangat menentukan competitive edge suatu institusi keuangan dalam menggapai seluas mungkin segmen masyarakat (market share).

Perkembangan produk inovatif di bidang keuangan cukup pesat untuk beberapa tahun terakhir, ini dikarenakan trend dunia berpacu dalam pengembangan instrumen keuangan dan juga terjadinya perubahan sistem nilai tukar. Rezim Bretton Woods yang menganut nilai tukar tetap (fixed exchange rates) telah diubah ke sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate). Perubahan tersebut telah mengakibatkan terjadinya fluktuasi yang besar dalam transaksi Valuta Asing dan menambah ketidakpastian terhadap seluruh transaksi keuangan internasional. Trend mencatat tiga tonggak transformasi di industri keuangan: pertama pergeseran dari produk pertanian ke arah dominasi produk keuangan, kedua pergantian mekanisme penyerahan fisik (physical delivery) menjadi cash settlement, ketiga menghapus local trading dan menggantikannya dengan global electronic trading.

Saat ini, lebih dari 1.200 jenis instrumen model traksaksi keuangan beredar dan diperdagangkan di pasar keuangan global. Perkembangan ini didorong oleh perkembangan produk keuangan baru yang sebagian besar berupa produk derivatif dan juga karena kemajuan dalam teori keuangan. Produk yang baru tersebut dipasangkan dengan kemajuan teori keuangan membuat produk tersebut merupakan solusi yang lebih baik untuk menghadapi permasalahan yang semakin komplek di bidang keuangan. Proses perubahan dalam sektor keuangan tersebut kemudian memunculkan istilah baru yang disebut Financial Engineering.[1] Dalam financial engineering ini melibatkan pengembangan dan aplikasi teori keuangan dan instrumen keuangan untuk menstrukturisasi solusi dari masalah keuangan yang komplek dan mengeksploitasi financial opportunities.

Badan syariah internasional Accounting and Auditing Organization for Islamic Finance Institution (AAOIFI)[2] melansir informasi, bahwa 80 persen sukuk internasional yang beredar di seluruh dunia, tidak sesuai dengan syariah Islam. Menurut Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Mulya E Siregar, dunia saat ini didominasi produk transaksi keuangan syariah yang memiliki kemiripan dengan produk keuangan konvensional. Dan, kecenderungan produk keuangan syariah internasional didominasi produk yang memiliki kamuflase underlying asset, seolah-olah produknya ada underlying asetnya padahal tidak ada, diantaranya adalah produk yang berbasis pada murabaha tawaruk[3] dan bai` al-inah[4] yang berkembang pesat di Malaysia.[5]

Allah SWT menurunkan ajaran Islam sebagai tuntunan hidup yang senantiasa mengakomodir kebutuhan umat manusia sesuai dengan prinsip-prinsip dasar norma bisnis yaitu pelarangan transaksi spekulasi, penipuan, pelarangan kontrak dan perdagangan ribawi. Aturan atau kaedah dalam hukum Muamalah Islam telah memberikan suatu keluwesan hukum terhadap masalah-masalah baru dalam dunia modern sekarang ini, karena yang menjadi standar penentuan suatu hukum adalah substansi dan tujuan dari transaksi tersebut, maka selama substansi dan tujuan dari transaksi tersebut sesuai dengan maslahat dan tujuan yang diakui oleh syariat Islam dan tidak bertentangan dengan hukum Islam maka dibolehkan.[6]Secara khusus, hukum muamalah mempunyai potensi yang lebih besar untuk berubah sesuai dengan perubahan zaman.

Kemajuan instrumen transaksi keuangan syariah modern dari segi struktur dan mekanisme akan ditentukan oleh kelenturan fikih muamalah yang mengakomodir kebutuhan pasar dan kemajuan zaman secara seimbang, dimana dengan terjadinya era the borderless word (dunia yang tanpa batas), mau tidak mau, siap tidak siap, sistem transaksi keuangan syariah dihadapkan pada situasi yang tanpa batas pula, dan harus mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman dalam transaksi keuangan modern.

Para akademik dan pelaku bisnis Muslim selayaknya secara kontinyu untuk mendesain dan mengembangkan bentuk instrumen-instrumen keuangan modern yang sesuai dengan hukum Islam (Islamic Financial Engineering). Hal tersebut sangat penting dilakukan mengingat banyaknya model baru dalam sistem keuangan modern yang diberlakukan tidak dibenarkan dalam syariat Islam. Tantangan utama bagi ulama dan praktisi keuangan Islam adalah mengidentifikasi teknik-teknik keuangan syariah kontemporer dan menstrukturisasi dari masalah transaksi keuangan modern yang semakin komplek. sehingga tidak ada peluang dan kesempatan lagi bagi pihak manapun untuk menyalahgunakan suatu sistem kontrak transaksi keuangan. Salah satu produk transaksi yang perlu mendapat perhatian serius adalah Murabahah.

Sampai saat ini pendapat umum masyarakat tentang pembiayaan murabahah adalah sama dengan sistem kredit pada perbankan konvensional. Hal ini disebabkan karena dalam praktek akad pembiayaan murabahah terjadi perubahah-perubahan yang mencontoh kepada kemiripan praktek dalam kredit pada bank konvensinal. Masyarakat pun cenderung mengeluhkan tingkat pembiayaan murabahah yang relative mahal.


A.  Konsep Murabahah Dalam Ekonomi Syariah

Pembahasan mengenai murabahah dapat kita temui dalam banyak literatur-literatur baik yang berbahasa Arab, Inggris, maupun yang berbahasa Indonesia. Pembahasan mengenai masalah ini terutama sekali akan kita temui dalam kitab-kitab klasik yang mengkaji masalah fiqh muamalah maliyah, demikian juga dalam buku literatur-literatur modern yang mengkaji masalah perbankan syari'ah (Islamic Banking).

Konsep Dasar Jual Beli Dalam Islam

Al-Râzi dalam Mukhtâr al-Sahâh[1], menyatakan bahwa secara etimologis, dalam bahasa Arab, kata Murâbahah diambil dari kata رَبِحَ yang berbaris bawah (ra bi ha) yang berarti dia beruntung dalam usahanya. Dan arti kata بَاعَ الشَّيْءَ مُرَابَحَةٌ dan dia menjual suatu barang dengan cara bagi hasil. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab: تِجَارَةٌ رَابِحَةٌ , yang bermakna: "Mengambil untung dari peniagaan yang diambil dari harga pokok yang ditambah dengan margin keuntungan." Sedangkan menurut Ibn Manzur dalam kitab Lisân al-Arab bahwa Murâbahah merupakan wazan مُفَاعَلَةٌ dari lafaz رَبِحَ yang memiliki arti pertambahan dan pertumbuhan dalam perniagaan[2].

Secara linguistik, al-Bai' (jual beli) bermakna pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. Al-Bai' juga berarti sebuah makna antonim, artinya al-Bai' (jual) bisa bermakna al-Syira (beli). Masing-masing kata ini bersifat interchangeable[3].

Murâbahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan/margin yang disepakati. Dalam jual beli Murâbahah penjual harus memberitahu harga pokok pembelian barang dan menentukan tingkat keuntungan tertentu sebagai tambahan, dan menjelaskannya kepada pembeli. Misalnya pedagang eceran membeli komputer dari grosir dengan harga Rp.5.000.000, kemudian ia menambahkan keuntungan sebesar Rp.500.000, dan ia menjualnya kepada pembeli dengan harga Rp.5.500.000.

            Murâbahah mencerminkan transaksi jual beli dimana harga jual merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mendatangkan obyek transaksi (harga beli/pokok) dengan tambahan keuntungan tertentu yang diinginkan penjual (margin), dimana harga beli dan jumlah keuntungan yang diinginkan diketahui oleh pembeli. Dalam arti, pembeli diberitahu berapa harga belinya dan tambahan keuntungan yang diinginkan.

Adapun pengertian Murabahah menurut pendapat empat Mazhab adalah: 

1. Madzhab Hanafi

Menurut madzhab Hanafi Bai' al-Murâbahah merupakan bentuk jual beli dimana pembeli mengetahui harga pokok barang dan tambahan margin yang diinginkan oleh penjual.[4]

2. MadzhabMaliki

Ulama Mâlikiyyah[5] menyatakan bahwa jual beli bisa dilakukan (diperbolehkan) dengan cara jual beli biasa (musâwamah) ataupun Murâbahah. Jual beli Murâbahah diperbolehkan dengan syarat penjual memberikan informasi yang transparan kepada pembeli tentang jumlah margin yang diinginkan serta harga pokok pembelian (HPP) yang ia dapatkan dari penjual pertama.[6]

3. Madzhab Syâfi'i

Ulama fiqh yang pertama kali memberikan legalitas transaksi Murâbahah li al-âmir bi al-Syirâ' adalah Imam Syâfe'i Ra, dalam kitab " Al-Umm" beliau menyatakan[7]: "dan ketika seseorang memperlihatkan sebuah barang tertentu kepada orang lain, dan berkata: " Belikanlah aku barang ini, dan engkau akan aku beri margin sekian" , kemudian orang tersebut mau untuk membelikannya, maka jual beli tersebut diperbolehkan. Namun demikian, orang yang meminta untuk dibelikan tersebut memiliki hak khiyar, jika barang tersebut sesuai dengan kriterianya,maka bisa dilanjutkan dengan akad jual beli dan akadnya sah, dan sebaliknya, jika tidak sesuai, maka ia berhak untuk membatalkannya"

4.    Madzhab Hambali

Bai' al-Murâbahah[8] merupakan salah satu bentuk praktik jual beli, dimana pihak penjual melakukan perniagaan atas komoditas yang dimiliki dengan tingkat keuntungan tertentu. Selain itu, penjual juga disyaratkan untuk menyebutkan harga pokok pembelian barang (sebagai modal) secara jelas,begitu juga dengan keuntungan yang diinginkan. Misalnya, penjual berkata:"modal yang saya keluarkan ntuk mendapatkan komoditas tersebut sebesar 100 real, dan saya ingin mendapatkan keuntungan sebesar 10 real". Bentuk transaksi ini diperbolehkan, dan tidak terdapat perbedaan pendapat atas keabsahannya, serta tidak ditemukan ulama yang memakruhkannya.

Jual beli Murâbahah memiliki landasan hukum yang bersumber dari Alquran, al-Sunnah, dan ijma'. Imam Syāfi'i berpendapat bahwa Rasulullah SAW hanya memberikan sabda mengenai jual beli yang terlarang saja, sedangkan Allah memberikan kebolehan jual beli secara umum.

Imam al-Kasâni menyatakan, bentuk jual beli yang diperbolehkan (sah,shahih) jika dilihat dari proses pertukaran komoditas/nilai pertukaran (badal) dalam jual beli, dapat dikategorikan menjadi[9]:

1.      Bai' Musâwamah, jual beli ini juga disebut dengan jual beli biasa adalah jual beli tanpa melihat harga pokok awal komoditas yang dijadikan sebagai obyek transaksi. Dalam arti, penjual tidak memberikan informasi kepada pembeli tentang harga pokok pembelian (HPP) dan keuntungan yang diinginkan. Harga jual yang terjadi saat transaksi merupakan hasil dari bargaining/ tawar menawar antara penjual dan pembeli;

2.      Bai' al-Murâbahah adalah jual beli komoditas dimana harga jual sesuai dengan harga pokok pembelian ditambah dengan margin/keuntungan tertentu. Dalam Bai' al-Murâbahah, penjual harus memberikan informasi kepada calon pembeli tentang harga pokok pembelian (HPP) beserta tingkat/jumlah keuntungan yang diinginkan;

3.      Bai' Tauliyah adalah jual beli dengan adanya ketentuan untuk memberikan informasi kepada calon pembeli tentang harga pokok pembelian. Dalam hal ini, harga jual sama dengan harga beli, penjual tidak ingin mengambil untung ataupun menderita kerugian. Bentuk jual beli ini sama halnya dengan transfer kepemilikan barang tersebut kepada orang lain tanpa adanya kompensasi;

4.      Bai' Isyrâk identik dengan Bai' Tauliyah, akan tetapi hanya sebagian dari nilai komoditas yang ditransaksikan. Misalnya, seorang penjual membeli 2 kilo mangga seharga Rp 10.000. Kemudian ada seorang pembelimembeli 1 kilo mangga tersebut dengan harga Rp 5.000, maka jual beli ini dinamakan dengan Tauliyah. Harga jual sama dengan harga beli, namun hanya sebagian dari total komoditas yang ditransaksikan;

5.      Bai' Wadî'ah adalah suatu bentuk jual beli dimana harga jual yang ditawarkan lebih rendah dari harga pokok pembelian, sehingga penjual berpotensi menderita kerugian. Misalnya, seseorang membeli computer seharga Rp 4.000.000, kemudian komputer tersebut dijual dengan harga Rp 3.500.000.

 

B.   Islamic Financial Engineering:  Pola Konstruksi Akad Murabahah

Menurut Finnerty, financial engineering merupakan Design, development and implementation of innovative financial instruments and processes, and the formulation of creative solutions to problems in finance"[10]. (sebuah desain, pengembangan dan penerapan instrumen keuangan yang inovatif dan prosesnya, serta suatu formulasi solusi kreatif untuk masalah-masalah di bidang keuangan)

Jadi, Islamic financial engineering merupakan disiplin ilmu yang berusaha memanfaatkan perkembangan mutakhir teori-teori keuangan[11] untuk menciptakan produk-produk finansial yang sesuai dengan hukum Islam dalam menangani kebutuhan-kebutuhan finansial yang semakin kompleks.

Teknik keuangan Islam (Islamic Financial Engineering) untuk mendesain ulang instrumen derivatif konvensional sehingga sesuai dan tidak bertentangan dengan hukum Islam terdiri atas tiga tahapan.

Tahapan Pertama: Evaluasi Instrumen, pada tahap ini suatu instrumen dievaluasi urgensi dan eksistensinya dalam bidang keuangan.

Tahapan Kedua: Substansi Instrumen, suatu bentuk transaksi ditelaah dari segi substansinya, apabila tidak sesuai atau bertentangan dengan hukum Islam, maka dilakukan revisi substansi untuk didesain ulang instrumennya. Apabila telah sesuai dan tidak bertentangan dengan hukum Islam, maka dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Tahapan Ketiga: Bentuk Instrumen, tahap ini untuk menelaah dan mengkaji dari segi bentuknya. Apabila terdapat unsur yang bertentangan dengan hukum Islam, maka direvisi untuk didesain ulang. Tahapan-tahapan dalam proses desain tersebut sebagaimana dalam diagram di bawah ini:  


Selengkapnya Artikel ini, klik ini: DOWNLOAD

Komentar
Shobirin
Makalah di atas ada relevansi dg kegiatan ekonomi nasional yg dlm praktiknya msh memerlukan beberapa konsep secara teoritis untk lebih meningkatkan market share lebih berpihak dan bergiat pd islamic banking, finance and economic, dimana penduduk yg mayoritas Muslim tp menunjukkan kegiatan ekonominya secara syar'i.

Nama
Email
Komentar
Note:
- Komentar ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
- Jika Alamat email tidak valid, Komentar tidak akan ditampilkan

Berita dan Artikel Lainnya

BERITA PA JAKARTA BARAT
BERITA HUKUM DAN PERADILAN
ARTIKEL HUKUM DAN EDUKASI
BERITA DAN ARTIKEL TERPOPULAR