logo

TEORI NUDGE DAN SOAL PERNIKAHAN “ ZAMAN NOW ”

Written by Tim Website PAJB on .

Written by Tim Website PAJB on . Hits: 184

TEORI NUDGE
DAN SOAL PERNIKAHAN
“ZAMAN NOW ”

Oleh : Amam Fakhrur
Penulis buku
" Kotak Hitam".

 

Sering kali kita saat membeli suatu barang atau saat melakukan aktifitas tertentu, sebenarnya tidak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan njlimet, tetapi tiba – tiba saja muncul dorongan untuk membeli barang atau melakukan aktifitas itu. Richard Thaler, seorang ilmuan di bidang ekonomi dari University of Chicago, telah melakukan penelitian dan yang menjadi obyek penelitian tersebut adalah mengenai dorongan manusia untuk melakukan sesuatu itu. Dari hasil dari penelitian dan pengamatannya itu, dia menulisnya bersama dengan Cass Sunstein dalam sebuah buku yang berjudul " Nudge : Improving Decisions About Health, Wealth and Happiness" (Yale University Press). Buku ini menjelaskan tentang bagaimana masyarakat dan organisasi (termasuk pemerintah) dapat membantu orang agar dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam keseharian. Berbagai pemikiran Thaler di dalam buku ini populer disebut dengan Nudge Theory.

Berkat Nudge Theory, Thaler pada tahun 2017, ia mendapatkan hadiah nobel di bidang ekonomi. Secara harfiah Nudge, adalah “menyentuh dengan siku”. Dan kemudian ia didefinisikan sebagai ”sesuatu hal” yang secara efektif mampu memengaruhi keputusan yang diambil oleh individu, kelompok, atau masyarakat, tanpa adanya paksaan, atau bahkan tanpa imbauan. Mengendalikan seseorang dalam memilih dari sisi perasaan dan kecenderungannya,hanya dengan sedikit campur tangan, hanya dengan “menyenggolnya”, tiada perintah dan aba-aba, itulah pesan utama dari teori ini.

Di beberapa tempat,Teori Nudge telah diterapkan dan memang dapat membantu orang agar dapat membuat keputusan yang lebih baik di berbagai bidang dalam keseharian. Buang air kecil di luar kloset di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda, menurun 80 % setelah dilukis binatang lalat di dinding Kloset. Slogan “Warga Minnesota 90 % taat pajak”, lebih efektif dari pada slogan, “Jika anda tidak membayar pajak, anda akan didenda”. Di Sao Paolo, Brazil, pada tahun 2011, untuk mengurangi buang sampah tidak pada tempatnya, di tong sampah di beri gambar seperti ring basket, supaya seperti cetak gol. Hasilnya, mengurangi 70 % warga membuang sampah tidak pada tempatnya. Untuk mengurangi penggunaan lift, di Subway Stockholm, Swedia, tangga dibuat seperti tuts piano yang bersuara, terbukti penggunaan tangga naik 80 %. Untuk mengurangi konsumsi makanan berkalori dan berlemak tinggi, kantin di Rumah Sakit Massachosetts, makanan diberi tanda lampu merah, kuning dan hijau. Makanan seperti humberger, pizza, soda dan ayam goreng ditandai lampu merah, sedangkan makanan berupa salad, buah diberi tanda lampu hijau. Cara ini cukup efektif mengurangi pengguna kantin di rumah sakit tersebut membeli makanan berkalori dan berlemak tinggi.

Saya kira dalam keseharian kita telah banyak diterapkan teori ini, terutama di dunia ritel. Kita saksikan di banyak pertokoan, untuk meningkatkan penjualan, barang dipajang secara menarik dan mudah dilihat dan dijangkau agar calon konsumen terdorong untuk memilih dan membelinya. Nah, sebenarnya Teori Nudge ini bisa diadopsi dan digunakan dalam memecahkan persoalan-persoalan keluarga . Di Indonesia, pasangan yang memilih bercerai menunjukkan tren terus meningkat, yang angkanya mencapai sekitar 15-20 persen setiap tahun, menunjukkan terdapatnya persoalan pernikahan “zaman now”. Coba saja amati, di setiap hari kerja di gedung–gedung Pengadilan Agama, ”tamu”nya rata-rata adalah dua manusia sedang dalam proses pemisahkan hubungan. Di tahun 2017, pasangan yang bercerai di Pengadilan Agama, angkanya mencapai 357 ribu pasang keluarga.

Bisa jadi memang masalah yang dihadapi pasangan "zaman now" lebih kompleks. Alasan utama perceraian adalah ketidakharmonisan dalam hubungan rumah tangga. Pemicunya beragam, mulai dari soal komunikasi yang tidak efektif, mimpi dan fakta pernikahan yang tidak sesuai, campur tangan pihak ke tiga, sampai terlalu banyak bermedia sosial, menjadi batu sandungan dalam pernikahan di era modern ini. Juga faktor ekonomi, yang bukan hanya kekuarangan dalam ekonomi keluarga, tetapi juga didapati, terutama pada pasangan milenial, suami dan istri sama-sama bekerja sehingga tidak takut bercerai karena istri juga mandiri secara finansial. Pernikahan yang semula dipandang sebagai perjanjian yang agung (mitsaqon gholidlo), saat ini telah ada pergeseran nilai dalam memandang pernikahan. Pernikahan dianggap seperti ikatan biasa, kalau sudah tidak harmonis dan enggak cocok, dengan mudahnya menjadi bubar .

Perceraian, secara otomatis berpengaruh terhadap kondisi sosial dan finansial kedua belah pihak dan bila dikaruniai keturunan, akan mempengaruhi kondisi psikologis dan masa depan anak. Padahal pernikahan tidak sesederhana dongeng yang pasti berakhir indah. Pernikahan yang langgeng butuh kerja keras dan kesabaran kedua belah pihak . Tantangan pasangan suami istri memang banyak, tergantung bagaimana pasangan tersebut dalam mengikhtiarkan untuk selalu mendapatkan solusinya, dan tidak mudah berakhir dengan menempuh jalan perceraian. Jadi, hampir semua persoalan pernikahan itu muncul karena problemnya ada pada manusianya, yaitu sebagai suami isteri.

Seringkali mediasi, perdamaian dan upaya mempersatukan pasangan suami tak menggoyahkan kehendak kedua belah pihak untuk bercerai. Maka, Teori Nudge ini sebenarnya bisa menjadi pendekatan baru. Sebab, Teori Nudge, pilihan untuk melakukan sesuatu tetap berada di tangan individu. Selain itu, Teori Nudge sifatnya memberikan arahan tentang sesuatu yang sebaiknya dipilih melalui sentuhan psikologis terhadap alam bawah sadar. Menggugah pasangan suami isteri tanpa harus memberi arahan atau paksaan, sehingga pasangan suami isteri terdorong untuk mencari solusi yang maslahat bagi keluarga, tanpa harus tergesa-gesa memutuskan melalui perceraian dua anak manusia yang konon dipersatukan oleh Tuhan itu . Seperti apa implementasinya? Monggo seluruh stakeholder secara bersama memikirkannya.

Hubungi Kami

Pengadilan  Agama Jakarta Barat

Jl. Pesanggrahan Raya No. 32 Kel. Kembangan Selatan Kec. Kembangan Jakarta Barat

Telp    : (021) 58352092

Fax    : (021) 58352093

Web : www.pa-jakartabarat.go.id

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.